Sudut pandang VS pandang sudut

Kalau seandainya ada yang meminta kalian untuk menggambarkan seekor bebek, kira-kira seperti apa bebek yang akan kalian gambarkan?

Hoplaa… mungkin dari 100 orang yang menggambar, 80% akan menggambar bebek yang sama denganku… itu lho bebek yang bentuknya seperti angka dua, yang berwarna kuning, dan bermulut mancung. Hehehe betul apa betul?

 

Cita-cita yang ketinggian

Kemarin, aku sempat ngobrol dengan keponakanku yang  abegeh yang digie generation. Dia baru menyelesaikan UN SMP. Obrolan seru itu bermula ketika aku menanyakan apa cita-citanya dan mau kuliah di mana.

 

Sule dan Cak Lontong dan Berpikir Divergen

 

Javid Namah

Saya sempat merasa kesal ketika Bambang T penulis Jokowi Undercover digugat kepiawaian menulisnya gara-gara hanya lulusan SMA. Bu Susi sang menteri juga banyak yang mencibir gara-gara tidak lulus SMA.

Saya sendiri? Hehehe sudah bisa ditebak lah,apalah aku ini, yang makan batagor pun masih ditambah nasi. Aku ini hanya lulusan STM, dari keluarga tidak mampu, jadi wajar kalau banyak memandangku sebelah mata gara-gara pendidikan yang ‘hanya segitu’.

Aku bekerja di lingkungan yang notabene dianalogikan sebagai lambang intelektualitas. Jadi, lulusan STM adalah urutan ke sekian yang akan dilirik untuk peningkatan karir, sepintar apapun dirimu, secakap apapun pekerjaanmu. Karirmu, seringkali mentok di tengah jalan. Jangan protes ya, itu real.

Hahaha…aku juga satu-satunya menantu yang tidak sarjana di tengah keluarga besar suami yang insinyur, dokter, pokoknya mentereng deh, walhasil yaa begitulah. Curhat ni yeeee.

Pun demikian di dunia pertetanggaan. Dulu,di kampung halaman nun jauh di sana ada seorang tetangga yang juga seorang dosen, yang hanya mau mengobrol dengan orang yang dianggapnya sederajat, yang dianggapnya sama inteleknya sama dia.

Suatu saat, ketika mudik lebaran (hiks udah ga inget kapan terakhir mudik lebaran, persis kayak bang Toyip yang tidak pulang sembilan kali lebaran karena setiap lebaran kalau engga lagi hamil, ya lagi menyusui, jadi ribet di jalanan), di malam hari pertama lebaran selalu penuh orang yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk bersilaturahim, mulai dari rombongan anak-anak sampai remaja karang taruna RT, aparat RW, ibu-ibu PKK, dan remaja masjid. Pak Dosen dan putranya pun keliling kampung bersama rombongan jamaah masjid, termasuk ke rumahku karena Bapak dianggap jamaah sepuh di sana.

Suatu saat, ketika bersalaman, si Bapak ini memperkenalkan putranya yang mulai beranjak remaja ke bapakku. Ini putra saya, namanya Javid Namah. Dan reflek aku pun menyelutuk, wah kayaknya Bapak ini fans beratnya Muhammad Iqbal, sampai judul bukunya dijadikan nama anaknya. Bapak dosen itu pun cukup terkejut. Dia pun bertanya kepada bapakku tentang diriku. Bapak pun menjelaskan tentang diriku yang mengembara selepas STM ke Bandung, bekerja di penerbit buku dan sedang mudik. Dari situ bapak dosen itu pun membuka obrolan tentang buku bahkan sampai rombongan yang lain pulang, beliau masih bertahan betah. Besoknya setiap ketemu di masjid beliau menyapa duluan, ngajak ngobrol tentang BUKU sampai sekarang.

Ahay, buku pula yang waktu itu mencairkan suasana ketika aku pertama kali bertemu dengan bapak mertuaku. Buku juga yang sering mendekatkan kami sebagai bapak dan menantu.

Eureka! Seringkali orang men-judge kita gara-gara tampilan luar kita. Merendahkan kita gara-gara pendidikan kita yang rendah. Atau barangkali malah aku, kamu, dan kita semua demikian?

Hehehe tulisan ini hanya cermin bagi diriku, yang sering down dengan pandangan dan penilaian orang lain terhadapku, yang masih sering galau ketika dinilai buruk, yang lebih sering menginginkan pujian daripada nasihat.

Yaa Allah, ampuni hamba yang lebih mementingkan penilaian manusia daripada mengharapkan ridhoMu. Yaa Allah, hamba berlindung kepadaMu dari segala buruk sangka, sifat takabur dan sombong. Aamiin.

Keep move on & be positif!

Eh iya, silakan komen buat yang punya pengalaman mirip-mirip sama ceritaku ya,

Barakallahu fiikum

Winarni